bedah-ukm1Di awali dengan hobi memelihara kelinci, berkembang menjadi usaha yang sangat menjanjikan.  Usaha peternakan ini dimulai pada medio tahun 2007, dengan berawal dari 4 ekor kelinci yang dipelihara dengan kandang seadanya di halaman samping rumah.  Kelinci mempunyai kelebihan dalam kecepatan beranak pinak.  Dengan cepatnya beranak tadi ibu Nuning mulai kebingungan akan diapakan anakan yang telah besar.  Setelah melihat pameran dan yakin kelinci tersebut dapat dijual, maka ibu Nuning mencoba untuk menjualnya.  Ibu Nuning mencoba menjual kelinci di Raya Puncak.  Tetapi sayang selama 3 hari berjualan tidak ada yang laku.

Pengalaman in tidak membuatnya berkecil hati.  Waktupun berlalu, tanpa disadari pada saat berjualan di Raya Puncak , pedagang kelinci lainnya memperhatikan dan menanyakan alamatnya. Mulai lah para pedagang kelinci berdatangan ke rumahnya untuk memesan kelinci.  Maka kandang di samping rumahnya di perbesar dan sanggup memelihara 100 ekor.

Untuk permintaan tersebut ibu Nuning mendapatkan bantuan modal kerja sebesar Rp 60 juta dari PT Rekayasa Industri melalui UKM Center Fakultas Ekonomi UI.  Modal kerja ini digunakan untuk membeli indukan, membeli mesin pembuat pakan dan membuat kandang baru. Dengan semakin banyaknya kelinci yang dipelihara di samping rumahnya membuat beberapa masalah baru; pakan kelinci yang semakin banyak yang diperlukan, bau kelinci yang sangat menyengat, tenaga khusus untuk memeliharanya.  Untuk mengatasi hal tersebut ibu Nuning membuat kandang baru di Cidokom 5 Kav 67 – Cisarua.  Kandang ini cukup menampung 400 ekor local dan 500 ekor kelinci jenis unggul (Anggora, Rex America, White New Zealand, campuran, Benggala).  Dan permintaan atas kelinci ini pun berkembang sebanyak 100 ekor setiap minggunya. Dari pembuatan pakannya pun, setelah mendapatkan formula komposisi yang baik maka pakannya pun selain untuk konsumsi sendiri, dijual ke para penghobi kelinci.  Kebutuhan pakan untuk dipakai sendiri sebesar 100 kg/hari dan yang dijual sebanyak 100 kg/minggu. 

Perkembangan ini membuat ibu Nuning semakin berpikir kreatif menciptakan peluang usaha baru.  Setelah mengikuti beberapa pelatihan dan bertemu beberapa pengusaha makanan, maka diputuskan rencana ke depan adalah Pengembangan bakso dan sosis dari daging kelinci dan pembuatan kompos. Sambil memperkuat peternakan dan pembuatan pakan kelinci. Demikian perjalanan dari seorang hobi yang menjadi pengusaha ternak kelinci.  Dan saat ini usaha yang dijalankan ibu Nuning ini beromset  Rp 40 jt/bulannya. Dan untungnya sekitar Rp 20 jt/bulan dikatakan ibu Nuning sambil berbisik dan tertawa kecil.

 

Kata kunci : Pantang menyerah, Prepare for Future.

Source : UKM Center FE-UI  dalam acara Bedah UKM 10 Maret 2009